Tampilkan postingan dengan label Prosa Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa Pendek. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Oktober 2015

Masa Kecil

Masa kecil adalah masa emas. Masa di mana kita belum mengerti banyak hal. Masa di mana kita akan diberitahu banyak hal. Masa di mana kita dibentuk melalui agama, pendidikan, keluarga, rasa cinta, pengalaman, hingga menjadi pribadi berkarakter yang terbentuk kedepannya.

Banyak. Iya, banyak sekarang orang dewasa ingin kembali ke masa kecilnya. Saat masih berlarian mengejar teman-temannya. Menangis dan tenang dipelukan orang tua. Saat di mana belum memikirkan betapa sulitnya sebenarnya menghadapi kenyataan dunia saat ini,masa kecil adalah masa emas. Maka jangan siakan.

Minggu, 27 September 2015

Malam

Malam memang sunyi. Dia gelap, kelam, hitam. Tapi malam tak sesunyi itu. Dia memiliki Rembulan yang memecah kegelapan. Menyinari temaram, begitu indah nan cantik. Juga bintang gemintang. Yang berkelap-kelip menghiasi langit.

Malam memang sunyi. Namun tak sesunyi kesepian. Kesepian tak memiliki apapun dan siapapun. Bahkan tak memiliki semangat. Dingin yang menusuk selalu menyelimuti. Mereka yang kesepian, mengharapkan kehangatan dari hati yang memeluknya.

Sabtu, 13 Juni 2015

Tidaklah Mudah

Mengutarakan memang tidaklah mudah. Kita harus mengumpulkan berhimpun keberanian untuk mengucapkannya. Walaupun hanya 1 kata. Yang bisa jadi, adalah bisa mengubah segala keadaan dan kondisi sekarang menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kondisi yang benar - benar berbeda dari sebelumnya.
Maka katakan, utarakanlah.

Justeru, Tidak mengutarakan itulah yang tersulit. Mati - matian kita memendamnya. Menutupinya dari kenyataan. Pada akhirnya, tak ada seorang pun yang kita perbolehkan untuk mengetahuinya. Tak seorang pun, meski hanya mengintip. Yang bisa jadi dia adalah yang ingin sekali kita beritahu.
Dan sesalnya, dia berlalu.

Kata - kata pun kini hanya tinggal angin lalu.
Hmmmm...

Cermin

Cermin.
Dia menunjukkan hal yang sebenarnya memang harus ditunjukkan kepada kita. Dia tak pernah berbohong, selalu jujur. Lihat saja, jika kita berdiri menghadap cermin, lurus ke depan, apakah kita melihat orang lain dari pantulannya ? Tidak. Itu adalah gambaran kita sendiri.

Terkadang, ketika melihat pantulan itu, kita merasa tidak suka. Seperti bercermin pada cermin buram atau cermin pecah. Padahal cermin itu masih utuh. Bagus. Tak lecet sedikit pun.

Pun juga, terkadang, ketika melihat pantulan itu, kita merasa sangat bangga diri. Seperti menjadi satu - satunya yang paling hebat, luar biasa. Ibarat kata, bercermin di cermin gelap. Tak melihat yang sebenarnya.

Manusia selalu tidak puas dengan apa yang dimilikinya sekarang. Selalu merasa sangat rendah, padahal dia baik - baik saja bahkan lebih baik. Selalu merasa sangat hebat berlebihan, padahal dia biasa saja bahkan lebih rendah.

Itulah kenapa cermin selalu jujur. Menunjukkan level, derajat kita yang sebenarnya. Jangan biarkan cermin itu pecah. Jika tak ada, siapa yang akan jujur lagi kepada kita ?

Jumat, 12 Juni 2015

Kepercayaan

Bicara soal kepercayaan,
Ibarat kertas yang masih baru. Putih, mulus, bersih tak bernoda, sama sekali tak ada cacat-cacatnya. Sekali kau remas-remas, tak akan bisa dikembalikan seperti keadaan kertas itu bermula. Meskipun sekuat tenaga kau meluruskannya. Selalu membekas.

Bicara soal perasaan,
Ibarat piring yang masih bagus. Licin, terbuat dari gerabah pilihan, merek terkenal, berbentuk utuh. Sekali kau pecahkan, berkeping- keping, tak akan bisa dikembalikan seperti awal piring itu bermula. Meskipun beribu-ribu maaf kau ucapkan. Selalu membekas.

Begitulah, berpikirlah dua kali bahkan lebih. Sebelum kau menyakiti yang percaya padamu, yang peduli padamu. Perasaan itu bukan main - main. Selalu serius.

Selasa, 09 Juni 2015

Itu Sakit

Ada yang bilang, "Diam adalah emas"....
Tapi ketika dia menjadi diam, kau sapa pun diam, berpapasan pun diam, dikirimi pesan lewat manapun tetap diam. Tak merespon. Seolah - seolah memang dirimu sengaja dia diamkan. Tak menganggap.
Dan apakah diam yang seperti itu dia sedang menjadi emas ?

Ada yang bilang, "Air tenang menghanyutkan".
Tenangnya seseorang memang tak baik kalau kita usik. Tapi tenangnya yang seperti 'itu'. Bukan tenang yang biasanya. Dia tenang setenang tanpa kabar, meski sudah ditanya berkali - kali. Dan apakah itu menghanyutkan ? Ya. Menghanyutkanmu dalam kekhawatiran, penungguan sia - sia, kekecewaan, kebohongan, hal yang ditutup - tutupi.

Ada yang bilang, "Jangan menunggu, Jemput bola".
Tapi apa yang mau dikata. Sudah jauh kau berlari, sudah dekat bola di depan matamu. Hendak kau ambil, bola itu menggelinding menuju kaki yang lain. Bola siapakah sebenarnya ? Bola apa sebenarnya ? Bukan bermaksud menendangnya agar gol. Tapi lihat, apa bola itu baik - baik saja ?

Dan apakah masih harus terus menjemput ?
Walau sedikit, meski tak banyak. Diamnya itu telah melukai. Ketenangannya itu sudah melukai. Langkahmu yang menjemput itu mengukir luka.

Meski rasa percayamu yang terluka sudah kau basuh dengan air mata. Tetap saja.
Itu Sakit.

Yang Cermin Ucap

Menatap potret termangu depan sana.
Gemerlap manis - manisnya dunia, sejenak menutup mata, melupakan rasa nikmatnya sebuah perjuangan. Terlepas dari yang terlihat waktu itu. Siapakah yang ada di sana ?

Dari yang menangis di sudut ruang. Wajah keriput yang semakin menua. Rambut mereka semakin memutih. Lambat laun renta. Tak ada yang bisa diharapkan lagi. Hanya sebatang kencur yang mulai menua pula, yang mampu mengangkat derajat mereka.
Tapi apa ? Kencur telah lupa.

Terlalu senangnya dengan manis - manis dunia. Telah lupa akan pahit manis nikmatnya perjuangan. Kini jatuh baru tahu rasa. Mau salahkan siapa ? Orang lain ?!
Dan tak habis pikir. Sudah tahu begitu, masih juga kejar simalakama. Kapan sadar ?!

Menunggu hingga si cermin pecah ?
Jangan harap.