Tampilkan postingan dengan label Puisi Sebuah Potret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Sebuah Potret. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Oktober 2015

Sisa-Sisa


Aku hanya sisa - sisa, sebatang pohon kelapa. Yang dulu terus melambai - lambai, kini hanya mengandai - andai.

Aku termenung sendirian, siang malam. Tiada satu menahu siapa diriku. Kecuali pasir yang berbisik, dan riak gelombang yang berisik.

Sesekali sepi ini ditemani bintang - gemintang, juga kadang terik. Sesekali sedih ini disapu ombak lautan, meski lebih sakit karena garam.

Hanya saja, siapa yang bisa disalahkan. Berteriak di pesisir, percuma. Marah pada gelombang pun tak berguna.

Aku hanya sisa - sisa, sebatang pohon kelapa. Yang tertinggal di pantai lepas. Hanya bisa menunggu, kapan hanyut kapan kandas.

Rabu, 14 Oktober 2015

Sekuntum Mawar


Hanya sekuntum mawar, tidak lebih. Meronakan merahnya di kesendirian, pedih. Ini hanyalah sekuntum mawar, tidak lebih. Tertancapkan durinya di kesepian, sedih. Ini memanglah hanya sekuntum mawar, tidak lebih. Jatuh terulai dari si empunya, perih. Memang hanyalah sekuntum mawar, tidak lebih. Menyerbak warnanya di kehampaan, letih.

Apalah itu hanya sekuntum mawar. Walau setiap harinya dia pedih, sedih, perih, dan letih menghadapi kesesakan dunia. Masih menebar senyuman, mencoba tegar, meniti tujuan yang dirajut mulai dari akar.

Ini hanyalah sekuntum mawar. Ya, Mawar Merah Indah yang penuh cinta dan perjuangan.

Senin, 27 Juli 2015

Dia Rembulan


Dia hadir di waktu malam. Begitu terang dan menyilaukan dalam pekatnya kegelapan malam. Bersama bintang gemintang yang selalu berkumpul mengelilinginya, semakin tampak indahlah ia.

Dia Rembulan. Yang selalu hadirkan Purnama di setiap waktunya. Tiap bulannya. Tiap pekannya. Walau mungkin terkadang dia juga tenggelam dalam gelap, atau muncul mengintip dalam Sabit. Meski begitu, tak ada yang bisa mengalahkan keindahan Rembulan di malam hari.

Dia Rembulan...
Ya, dialah Si Primadona